Asyiknya berkunjung ke peternakan

ASYIKNYA KE PETERNAKAN SAPI…
(Rabu, 31 Maret 2010. Pukul 08.00 – 09.00)

Pagi itu, kami teman-teman Ibnu Sina (kelas 2) akan berkunjungan ke peternakan sapi milik Yayasan Harapan Umat-Brebes, yang terletak di desa Pebatan. Peternakan itu menjadi tanggung jawab LM3 (Lembaga Mandiri Mengakar pada Masyarakat), lembaga bawah naungan Yayasan Harapan Umat. Kami sepakat untuk berkumpul di salah satu rumah teman kami, Zulfan namanya. Alasannya karena kebetulan letak rumah Zulfan tak jauh dari letak peternakan itu, dan juga karena dari kami tidak tau letak peternakan sapinya.

Satu per satu teman kami sampai di rumah Zulfan. Terakhir datanglah bu Ati dengan membawa kamera. Horreee…..!!! teriak kami ketika melihat bu Ati datang. Ayooo…bu cepetan, kita langsung ke peternakan, kami sudah nda sabar !! Teriak beberapa teman kami. Bergegas bu Ati memarkir sepeda motornya. Selesai memarkir motor, kami bersama dengan 3 guru pendamping (bu Ati, bu Sulis dan pak Iwan) langsung menuju ke peternakan.

Wah…jalannya “jeblok” (becek) seperti jalan menuju kampus SDIT. Kamipun berjalan dengan penuh hati-hati, karena jalan cukup licin. Wah…lihat di sana!!kata salah seorang teman kami. Pandangan kami langsung tertuju kesuatu tempat. Ternyata di depan kami ada kubangan cukup besar, dan yang lebih menariknya lagi, ada 3 ekor kerbau yang sedang berendam. Kamipun behenti sejenak menikmati pemandangan yang jarang kami jumpai itu…Tak segan bu Ati langsung mengambil gambar pemandangan itu.
Setelah cukup menikmati, kamipun melanjutkan perjalanan………….

Sesampainya di sana, kami bertemu dengan Pa Siswadi, penanggung jawab (ketua) LM3. Kamipun meminta izin untuk melihat dan memberi makan sapi-sapi tersebut. Kami sangat senang sekali dapat melihat sapi dari dekat, bahkan beberapa teman kami banyak yang berani menyentuh sapi-sapi itu. Tiba-tiba saja terdengar suara anak-anak putri yang masih enggan untuk masuk lebih dekat.
“Sapinya banyak yah, bu…”
“Takut!! Nanti sapinya menggigit,bu…”
“Bau, bu…”
Komentar kami bermacam-macam, saat berniat untuk masuk lebih dekat lagi…
Tetapi tanpa menunggu perintah, kamipun bergegas mengambil rumput dan jerami untuk diberikan kepada sapi-sapi itu.

Melihat sapi yang begitu banyak makan dengan lahapnya, kamipun seakan lupa dengan kondisi dan bau peternakan yang sangat menyengat…Kami begitu asyik berkerumun dengan sapi-sapi itu. Namun suasana mulai ribut saat ada beberapa anak putri yang menjerit ketakutan saat akan menyentuh sapi. Ada yang sampai bersembunyi di belakang bu Ati dan memegang tangan teman lainnya. Melihat situasi yang tidak terkontrol, Pa Iwan akhirnya mengajak kami untuk berkumpul. Pa Iwan mulai memberikan kami pengarahan atau informasi yang terkait dengan sapi-sapi tersebut. Selesai memberi pengarahan, Pa Iwan langsung bertanya kepada kami…
“Siapa yang tahu, ada berapa jenis sapi?”
“dua pak!”, jawab Helmi
“betul….”, lau jenisnya apa saja??tanya pa Iwan
“Sapi jantan dan sapi betina, pa!” jawab Helmi
Mendengar jawaban Helmi, Pa Iwan, Bu Ati dan Bu Sulis tersenyum simpul…
Pa Iwanpun memberikan jawaban dan penjelasan yang benar dari pertanyaan tadi…
“Pada umumnya, jenis sapi itu ada dua, yaitu sapi pedaging dan sapi perah. Sapi pedaging itu yang dimanfaatkan dagingnya, sedangkan sapi perah yang dimanfaatkan adalah susunya. Jenis sapi di peternakan ini adalah jenis sapi pedaging.” Jelas Pa Iwan
Kemudian pa Iwan bertanya lagi, “ Apa makanan sapi?”
“Rumput,pa!”
“Kulit pisang, pa”
“Jerami, pa”
(kami menjawab saling bersahut-sahutan…)
Bu Ati yang sibuk mengambil gambar, berkata “kalau ingin tahu lebih banyak lagi tentang sapi-sapi ini, kalian bisa tanyakan langsung kepada pa Siswadi, selaku penanggung jawab dari peternakan sapi ini.”

Sembari menunggu Pa Siswadi yang sedang membersihkan kotoran sapi, kami melanjutkan memberi makan sapi-sapi itu. Bu Ati seakan tidak mau melewatkan pemandangan yang sangat menggugah perasaan itu dengan mengambil gambar demi gambar dengan seksama. Melihat kami asyik berkerumun dengan sapi, bu Sulispun terdorong untuk ikut menikmati suasana di peternakan sapi itu. Akhirnya Bu Sulis memberanikan diri mengambil rumput, memberinya makan..dan subkhanallah…bu Sulispun berani menyentuh salah satu sapi yang berada di kandang paling depan.

Akhirnya bu Sulis dan Bu ati mengikuti kami untuk masuk lebih dekat lagi dengan sapi-sapi itu. Anak putrid yang masih takut, berjalan beriringan dan saling berpegang tangan. Beberapa menit kemudian, Pa Siswadi datang menghampiri kami. Kamipun berkumpul, karena saat itu pa Siswadi sudah siap untuk memberikan pengarahan.

Pa Sis menjelaskan “Sapi di peternkan ini sebagian besar jenis PO (Peranakan Ongol). Jumlah sapi di sini 22 ekor, 10 sapi jantan dan 12 ekor sapi betina. Untuk semua sapi betina yang ada di sini, semuanya dalam keadaan hamil…Sapi-sapi ini didatangkan dari daerah Purwodadi…”jelas Pa Sis
Kemudian ada yang menanyakan, “apa bedanya sapi betina dan sapi jantan??
Pa sis, bertanya kepada kami,”Siapa diantara kalian yang bisa membedakan sapi jantan dan sapi betina?”
Sesaat kami terdiam sambil mengamati sapi-sapi yang ada di sekitar kami, kami cukup penasaran dengan jawaban dari pertanyaan tadi. Dengan serius kami mengamati sapi-sapi itu. Melihat kami yang sedang bersibuk berfikir, akhirnya Pa Siswadi memberikan jawabannya kepada kami. Kamipun cukup puas dengan jawaban yang sudah diberikan Pa Siswadi.
Pa Siswadi juga menambahi jawabannya, “kalau sapi betina yang sedang hamil, masa kehamilannya sama dengan manusia, yaitu 9 bulan.”
Adapun kotorannya bisa kita manfaatkan untuk pembuatan bio gas”
Selang beberapa menit, Pa Iwan bertanya kepada kami” kalau sapi anakan itu makannya apa?”
“Pisang, pa!” jawab salah seorang teman kami.
Spontan , kami tertawa geli mendengar jawaban itu…
Zulfan yang dari tadi serius mendengarkan informasi dari Pa Siswadi juga memberanikan diri untuk bertanya.
“Bio gas itu, seperti yang kita beli ya Pa?”
“Tentu saja kegunaannya sama dengan gas yang kita gunakan sehari-hari, hanya saja kalau bio gas itu berasal dari kotoran”

Tak terasa ternyata sudah lebih dari setengah jam kami berada di peternakan. Kami juga sudah mulai capek..Akhirnya Bu ati, mengakhiri kunjungan kami dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Pa Siswadi karena sudah bersedia memberikan waktu dan kesempatannya kepada kami untuk melakukan kunjungan.
Kunjungan ini, merupakan pengalaman yang sangat berkesan yang mungkin akan terus kami ingat selamanya…..

Kamipun berpamitan dan segera menuju ke rumah teman kami, Zulfan. Sesampainya di sana, Bu Ati berkata kalau kami harus cuci tangan dan kaki sebelum kami masuk ke rumah zulfan. Satu persatu dari kami membersihkan tangan dan kaki, tak ketinggalan Pa Iwan dan Bu Ati membantu kami membersihkan sepatu-sepatu yang kotor karena Lumpur.

Setelah membersihkan diri, kami melepas dahaga dan rasa lelah dengan menikmati snack pemberian dari orang tua zulfan dan snack dari LM3. Wah..banyak sekali snack yang sudah kami dapatkan..ehmmm nyaaammiii.
Rasa capek dan lelah kami sudah terobati,…
Beberapa menit kemudian, Pa Iwan yang tadi pamit untuk mencari kendaraan untuk mengantarkan kami pulang, ternyata sudah tiba dengan angkutannya. Pa Iwan segera memanggil kami untuk segera berkemas-kemas dan langsung naik. Kamipun bergegas mengemasi semua barang-barang dan langsung berlarian menuju angkutan itu. Seketika itu kendaraan langsung meluncur ke kampus SDIT.
Sayang….Zulfan dan salah satu guru kami tertinggal. Akhirnya mereka berdua ,ikut dengan bu Ati naik sepeda motor.

Sesampainya di depan rajak, kami diharuskan jalan kaki menuju sekolah, karena sangat tidak mungkin kalau angkutan yang kami tumpangi harus mengantarkan sampai sekolah. Kondisi jalan yang becek dan terjal menyulitkan kendaraan untuk bisa melaju di jalan itu. Kami beramai-ramai jalan kaki menuju sekolah, hanya satu teman kami, Ghina yang ikut dengan Bu Ati sampai sekolah, karena kakinya masih sakit untuk jalan.

Karena memang hari mulai panas, banyak dari teman-teman yang mengeluh kepanasan dan kecapekan. Dengan keringat yang berpeluh-peluh, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju kampus kami. Walaupun terasa sangat melelahkan, tetapi dalam hati, kami merasa senang karena pulang dengan membawa segudang pengalaman yang sangat berkesan.

Sesampainya di sekolah, kami melepas dahaga dan lelah yang amat sangat, dengan menikmati snack yang tadi masih tersisa. Bu Ati berkata, bahwa pengalaman kita berkunjung ke peternakan harus diabadikan melalui sebuah tulisan yang harus kami karang dalam pelajaran Bahasa Indonesia nanti…

ASYIKNYA KE PETERNAKAN SAPI…

(Rabu, 31 Maret 2010. Pukul 08.00 – 09.00)

Pagi itu, kami teman-teman Ibnu Sina (kelas 2) akan berkunjungan ke peternakan sapi milik Yayasan Harapan Umat-Brebes, yang terletak di desa Pebatan. Peternakan itu menjadi tanggung jawab LM3 (Lembaga Mandiri Mengakar pada Masyarakat), lembaga bawah naungan Yayasan Harapan Umat. Kami sepakat untuk berkumpul di salah satu rumah teman kami, Zulfan namanya. Alasannya karena kebetulan letak rumah Zulfan tak jauh dari letak peternakan itu, dan juga karena dari kami tidak tau letak peternakan sapinya.

Satu per satu teman kami sampai di rumah Zulfan. Terakhir datanglah bu Ati dengan membawa kamera. Horreee…..!!! teriak kami ketika melihat bu Ati datang. Ayooo…bu cepetan, kita langsung ke peternakan, kami sudah nda sabar !! Teriak beberapa teman kami. Bergegas bu Ati memarkir sepeda motornya. Selesai memarkir motor, kami bersama dengan 3 guru pendamping (bu Ati, bu Sulis dan pak Iwan) langsung menuju ke peternakan.

Wah…jalannya “jeblok” (becek) seperti jalan menuju kampus SDIT. Kamipun berjalan dengan penuh hati-hati, karena jalan cukup licin. Wah…lihat di sana!!kata salah seorang teman kami. Pandangan kami langsung tertuju kesuatu tempat. Ternyata di depan kami ada kubangan cukup besar, dan yang lebih menariknya lagi, ada 3 ekor kerbau yang sedang berendam. Kamipun behenti sejenak menikmati pemandangan yang jarang kami jumpai itu…Tak segan bu Ati langsung mengambil gambar pemandangan itu.
Setelah cukup menikmati, kamipun melanjutkan perjalanan………….

Sesampainya di sana, kami bertemu dengan Pa Siswadi, penanggung jawab (ketua) LM3. Kamipun meminta izin untuk melihat dan memberi makan sapi-sapi tersebut. Kami sangat senang sekali dapat melihat sapi dari dekat, bahkan beberapa teman kami banyak yang berani menyentuh sapi-sapi itu. Tiba-tiba saja terdengar suara anak-anak putri yang masih enggan untuk masuk lebih dekat.
“Sapinya banyak yah, bu…”
“Takut!! Nanti sapinya menggigit,bu…”
“Bau, bu…”
Komentar kami bermacam-macam, saat berniat untuk masuk lebih dekat lagi…
Tetapi tanpa menunggu perintah, kamipun bergegas mengambil rumput dan jerami untuk diberikan kepada sapi-sapi itu.

Melihat sapi yang begitu banyak makan dengan lahapnya, kamipun seakan lupa dengan kondisi dan bau peternakan yang sangat menyengat…Kami begitu asyik berkerumun dengan sapi-sapi itu. Namun suasana mulai ribut saat ada beberapa anak putri yang menjerit ketakutan saat akan menyentuh sapi. Ada yang sampai bersembunyi di belakang bu Ati dan memegang tangan teman lainnya. Melihat situasi yang tidak terkontrol, Pa Iwan akhirnya mengajak kami untuk berkumpul. Pa Iwan mulai memberikan kami pengarahan atau informasi yang terkait dengan sapi-sapi tersebut. Selesai memberi pengarahan, Pa Iwan langsung bertanya kepada kami…
“Siapa yang tahu, ada berapa jenis sapi?”
“dua pak!”, jawab Helmi
“betul….”, lau jenisnya apa saja??tanya pa Iwan
“Sapi jantan dan sapi betina, pa!” jawab Helmi
Mendengar jawaban Helmi, Pa Iwan, Bu Ati dan Bu Sulis tersenyum simpul…
Pa Iwanpun memberikan jawaban dan penjelasan yang benar dari pertanyaan tadi…
“Pada umumnya, jenis sapi itu ada dua, yaitu sapi pedaging dan sapi perah. Sapi pedaging itu yang dimanfaatkan dagingnya, sedangkan sapi perah yang dimanfaatkan adalah susunya. Jenis sapi di peternakan ini adalah jenis sapi pedaging.” Jelas Pa Iwan
Kemudian pa Iwan bertanya lagi, “ Apa makanan sapi?”
“Rumput,pa!”
“Kulit pisang, pa”
“Jerami, pa”
(kami menjawab saling bersahut-sahutan…)
Bu Ati yang sibuk mengambil gambar, berkata “kalau ingin tahu lebih banyak lagi tentang sapi-sapi ini, kalian bisa tanyakan langsung kepada pa Siswadi, selaku penanggung jawab dari peternakan sapi ini.”

Sembari menunggu Pa Siswadi yang sedang membersihkan kotoran sapi, kami melanjutkan memberi makan sapi-sapi itu. Bu Ati seakan tidak mau melewatkan pemandangan yang sangat menggugah perasaan itu dengan mengambil gambar demi gambar dengan seksama. Melihat kami asyik berkerumun dengan sapi, bu Sulispun terdorong untuk ikut menikmati suasana di peternakan sapi itu. Akhirnya Bu Sulis memberanikan diri mengambil rumput, memberinya makan..dan subkhanallah…bu Sulispun berani menyentuh salah satu sapi yang berada di kandang paling depan.

Akhirnya bu Sulis dan Bu ati mengikuti kami untuk masuk lebih dekat lagi dengan sapi-sapi itu. Anak putrid yang masih takut, berjalan beriringan dan saling berpegang tangan. Beberapa menit kemudian, Pa Siswadi datang menghampiri kami. Kamipun berkumpul, karena saat itu pa Siswadi sudah siap untuk memberikan pengarahan.

Pa Sis menjelaskan “Sapi di peternkan ini sebagian besar jenis PO (Peranakan Ongol). Jumlah sapi di sini 22 ekor, 10 sapi jantan dan 12 ekor sapi betina. Untuk semua sapi betina yang ada di sini, semuanya dalam keadaan hamil…Sapi-sapi ini didatangkan dari daerah Purwodadi…”jelas Pa Sis
Kemudian ada yang menanyakan, “apa bedanya sapi betina dan sapi jantan??
Pa sis, bertanya kepada kami,”Siapa diantara kalian yang bisa membedakan sapi jantan dan sapi betina?”
Sesaat kami terdiam sambil mengamati sapi-sapi yang ada di sekitar kami, kami cukup penasaran dengan jawaban dari pertanyaan tadi. Dengan serius kami mengamati sapi-sapi itu. Melihat kami yang sedang bersibuk berfikir, akhirnya Pa Siswadi memberikan jawabannya kepada kami. Kamipun cukup puas dengan jawaban yang sudah diberikan Pa Siswadi.
Pa Siswadi juga menambahi jawabannya, “kalau sapi betina yang sedang hamil, masa kehamilannya sama dengan manusia, yaitu 9 bulan.”
Adapun kotorannya bisa kita manfaatkan untuk pembuatan bio gas”
Selang beberapa menit, Pa Iwan bertanya kepada kami” kalau sapi anakan itu makannya apa?”
“Pisang, pa!” jawab salah seorang teman kami.
Spontan , kami tertawa geli mendengar jawaban itu…
Zulfan yang dari tadi serius mendengarkan informasi dari Pa Siswadi juga memberanikan diri untuk bertanya.
“Bio gas itu, seperti yang kita beli ya Pa?”
“Tentu saja kegunaannya sama dengan gas yang kita gunakan sehari-hari, hanya saja kalau bio gas itu berasal dari kotoran”

Tak terasa ternyata sudah lebih dari setengah jam kami berada di peternakan. Kami juga sudah mulai capek..Akhirnya Bu ati, mengakhiri kunjungan kami dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Pa Siswadi karena sudah bersedia memberikan waktu dan kesempatannya kepada kami untuk melakukan kunjungan.
Kunjungan ini, merupakan pengalaman yang sangat berkesan yang mungkin akan terus kami ingat selamanya…..

Kamipun berpamitan dan segera menuju ke rumah teman kami, Zulfan. Sesampainya di sana, Bu Ati berkata kalau kami harus cuci tangan dan kaki sebelum kami masuk ke rumah zulfan. Satu persatu dari kami membersihkan tangan dan kaki, tak ketinggalan Pa Iwan dan Bu Ati membantu kami membersihkan sepatu-sepatu yang kotor karena Lumpur.

Setelah membersihkan diri, kami melepas dahaga dan rasa lelah dengan menikmati snack pemberian dari orang tua zulfan dan snack dari LM3. Wah..banyak sekali snack yang sudah kami dapatkan..ehmmm nyaaammiii.
Rasa capek dan lelah kami sudah terobati,…
Beberapa menit kemudian, Pa Iwan yang tadi pamit untuk mencari kendaraan untuk mengantarkan kami pulang, ternyata sudah tiba dengan angkutannya. Pa Iwan segera memanggil kami untuk segera berkemas-kemas dan langsung naik. Kamipun bergegas mengemasi semua barang-barang dan langsung berlarian menuju angkutan itu. Seketika itu kendaraan langsung meluncur ke kampus SDIT.
Sayang….Zulfan dan salah satu guru kami tertinggal. Akhirnya mereka berdua ,ikut dengan bu Ati naik sepeda motor.

Sesampainya di depan rajak, kami diharuskan jalan kaki menuju sekolah, karena sangat tidak mungkin kalau angkutan yang kami tumpangi harus mengantarkan sampai sekolah. Kondisi jalan yang becek dan terjal menyulitkan kendaraan untuk bisa melaju di jalan itu. Kami beramai-ramai jalan kaki menuju sekolah, hanya satu teman kami, Ghina yang ikut dengan Bu Ati sampai sekolah, karena kakinya masih sakit untuk jalan.

Karena memang hari mulai panas, banyak dari teman-teman yang mengeluh kepanasan dan kecapekan. Dengan keringat yang berpeluh-peluh, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju kampus kami. Walaupun terasa sangat melelahkan, tetapi dalam hati, kami merasa senang karena pulang dengan membawa segudang pengalaman yang sangat berkesan.

Sesampainya di sekolah, kami melepas dahaga dan lelah yang amat sangat, dengan menikmati snack yang tadi masih tersisa. Bu Ati berkata, bahwa pengalaman kita berkunjung ke peternakan harus diabadikan melalui sebuah tulisan yang harus kami karang dalam pelajaran Bahasa Indonesia nanti…

ASYIKNYA KE PETERNAKAN SAPI…

(Rabu, 31 Maret 2010. Pukul 08.00 – 09.00)

Pagi itu, kami teman-teman Ibnu Sina (kelas 2) akan berkunjungan ke peternakan sapi milik Yayasan Harapan Umat-Brebes, yang terletak di desa Pebatan. Peternakan itu menjadi tanggung jawab LM3 (Lembaga Mandiri Mengakar pada Masyarakat), lembaga bawah naungan Yayasan Harapan Umat. Kami sepakat untuk berkumpul di salah satu rumah teman kami, Zulfan namanya. Alasannya karena kebetulan letak rumah Zulfan tak jauh dari letak peternakan itu, dan juga karena dari kami tidak tau letak peternakan sapinya.

Satu per satu teman kami sampai di rumah Zulfan. Terakhir datanglah bu Ati dengan membawa kamera. Horreee…..!!! teriak kami ketika melihat bu Ati datang. Ayooo…bu cepetan, kita langsung ke peternakan, kami sudah nda sabar !! Teriak beberapa teman kami. Bergegas bu Ati memarkir sepeda motornya. Selesai memarkir motor, kami bersama dengan 3 guru pendamping (bu Ati, bu Sulis dan pak Iwan) langsung menuju ke peternakan.

Wah…jalannya “jeblok” (becek) seperti jalan menuju kampus SDIT. Kamipun berjalan dengan penuh hati-hati, karena jalan cukup licin. Wah…lihat di sana!!kata salah seorang teman kami. Pandangan kami langsung tertuju kesuatu tempat. Ternyata di depan kami ada kubangan cukup besar, dan yang lebih menariknya lagi, ada 3 ekor kerbau yang sedang berendam. Kamipun behenti sejenak menikmati pemandangan yang jarang kami jumpai itu…Tak segan bu Ati langsung mengambil gambar pemandangan itu.
Setelah cukup menikmati, kamipun melanjutkan perjalanan………….

Sesampainya di sana, kami bertemu dengan Pa Siswadi, penanggung jawab (ketua) LM3. Kamipun meminta izin untuk melihat dan memberi makan sapi-sapi tersebut. Kami sangat senang sekali dapat melihat sapi dari dekat, bahkan beberapa teman kami banyak yang berani menyentuh sapi-sapi itu. Tiba-tiba saja terdengar suara anak-anak putri yang masih enggan untuk masuk lebih dekat.
“Sapinya banyak yah, bu…”
“Takut!! Nanti sapinya menggigit,bu…”
“Bau, bu…”
Komentar kami bermacam-macam, saat berniat untuk masuk lebih dekat lagi…
Tetapi tanpa menunggu perintah, kamipun bergegas mengambil rumput dan jerami untuk diberikan kepada sapi-sapi itu.

Melihat sapi yang begitu banyak makan dengan lahapnya, kamipun seakan lupa dengan kondisi dan bau peternakan yang sangat menyengat…Kami begitu asyik berkerumun dengan sapi-sapi itu. Namun suasana mulai ribut saat ada beberapa anak putri yang menjerit ketakutan saat akan menyentuh sapi. Ada yang sampai bersembunyi di belakang bu Ati dan memegang tangan teman lainnya. Melihat situasi yang tidak terkontrol, Pa Iwan akhirnya mengajak kami untuk berkumpul. Pa Iwan mulai memberikan kami pengarahan atau informasi yang terkait dengan sapi-sapi tersebut. Selesai memberi pengarahan, Pa Iwan langsung bertanya kepada kami…
“Siapa yang tahu, ada berapa jenis sapi?”
“dua pak!”, jawab Helmi
“betul….”, lau jenisnya apa saja??tanya pa Iwan
“Sapi jantan dan sapi betina, pa!” jawab Helmi
Mendengar jawaban Helmi, Pa Iwan, Bu Ati dan Bu Sulis tersenyum simpul…
Pa Iwanpun memberikan jawaban dan penjelasan yang benar dari pertanyaan tadi…
“Pada umumnya, jenis sapi itu ada dua, yaitu sapi pedaging dan sapi perah. Sapi pedaging itu yang dimanfaatkan dagingnya, sedangkan sapi perah yang dimanfaatkan adalah susunya. Jenis sapi di peternakan ini adalah jenis sapi pedaging.” Jelas Pa Iwan
Kemudian pa Iwan bertanya lagi, “ Apa makanan sapi?”
“Rumput,pa!”
“Kulit pisang, pa”
“Jerami, pa”
(kami menjawab saling bersahut-sahutan…)
Bu Ati yang sibuk mengambil gambar, berkata “kalau ingin tahu lebih banyak lagi tentang sapi-sapi ini, kalian bisa tanyakan langsung kepada pa Siswadi, selaku penanggung jawab dari peternakan sapi ini.”

Sembari menunggu Pa Siswadi yang sedang membersihkan kotoran sapi, kami melanjutkan memberi makan sapi-sapi itu. Bu Ati seakan tidak mau melewatkan pemandangan yang sangat menggugah perasaan itu dengan mengambil gambar demi gambar dengan seksama. Melihat kami asyik berkerumun dengan sapi, bu Sulispun terdorong untuk ikut menikmati suasana di peternakan sapi itu. Akhirnya Bu Sulis memberanikan diri mengambil rumput, memberinya makan..dan subkhanallah…bu Sulispun berani menyentuh salah satu sapi yang berada di kandang paling depan.

Akhirnya bu Sulis dan Bu ati mengikuti kami untuk masuk lebih dekat lagi dengan sapi-sapi itu. Anak putrid yang masih takut, berjalan beriringan dan saling berpegang tangan. Beberapa menit kemudian, Pa Siswadi datang menghampiri kami. Kamipun berkumpul, karena saat itu pa Siswadi sudah siap untuk memberikan pengarahan.

Pa Sis menjelaskan “Sapi di peternkan ini sebagian besar jenis PO (Peranakan Ongol). Jumlah sapi di sini 22 ekor, 10 sapi jantan dan 12 ekor sapi betina. Untuk semua sapi betina yang ada di sini, semuanya dalam keadaan hamil…Sapi-sapi ini didatangkan dari daerah Purwodadi…”jelas Pa Sis
Kemudian ada yang menanyakan, “apa bedanya sapi betina dan sapi jantan??
Pa sis, bertanya kepada kami,”Siapa diantara kalian yang bisa membedakan sapi jantan dan sapi betina?”
Sesaat kami terdiam sambil mengamati sapi-sapi yang ada di sekitar kami, kami cukup penasaran dengan jawaban dari pertanyaan tadi. Dengan serius kami mengamati sapi-sapi itu. Melihat kami yang sedang bersibuk berfikir, akhirnya Pa Siswadi memberikan jawabannya kepada kami. Kamipun cukup puas dengan jawaban yang sudah diberikan Pa Siswadi.
Pa Siswadi juga menambahi jawabannya, “kalau sapi betina yang sedang hamil, masa kehamilannya sama dengan manusia, yaitu 9 bulan.”
Adapun kotorannya bisa kita manfaatkan untuk pembuatan bio gas”
Selang beberapa menit, Pa Iwan bertanya kepada kami” kalau sapi anakan itu makannya apa?”
“Pisang, pa!” jawab salah seorang teman kami.
Spontan , kami tertawa geli mendengar jawaban itu…
Zulfan yang dari tadi serius mendengarkan informasi dari Pa Siswadi juga memberanikan diri untuk bertanya.
“Bio gas itu, seperti yang kita beli ya Pa?”
“Tentu saja kegunaannya sama dengan gas yang kita gunakan sehari-hari, hanya saja kalau bio gas itu berasal dari kotoran”

Tak terasa ternyata sudah lebih dari setengah jam kami berada di peternakan. Kami juga sudah mulai capek..Akhirnya Bu ati, mengakhiri kunjungan kami dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Pa Siswadi karena sudah bersedia memberikan waktu dan kesempatannya kepada kami untuk melakukan kunjungan.
Kunjungan ini, merupakan pengalaman yang sangat berkesan yang mungkin akan terus kami ingat selamanya…..

Kamipun berpamitan dan segera menuju ke rumah teman kami, Zulfan. Sesampainya di sana, Bu Ati berkata kalau kami harus cuci tangan dan kaki sebelum kami masuk ke rumah zulfan. Satu persatu dari kami membersihkan tangan dan kaki, tak ketinggalan Pa Iwan dan Bu Ati membantu kami membersihkan sepatu-sepatu yang kotor karena Lumpur.

Setelah membersihkan diri, kami melepas dahaga dan rasa lelah dengan menikmati snack pemberian dari orang tua zulfan dan snack dari LM3. Wah..banyak sekali snack yang sudah kami dapatkan..ehmmm nyaaammiii.
Rasa capek dan lelah kami sudah terobati,…
Beberapa menit kemudian, Pa Iwan yang tadi pamit untuk mencari kendaraan untuk mengantarkan kami pulang, ternyata sudah tiba dengan angkutannya. Pa Iwan segera memanggil kami untuk segera berkemas-kemas dan langsung naik. Kamipun bergegas mengemasi semua barang-barang dan langsung berlarian menuju angkutan itu. Seketika itu kendaraan langsung meluncur ke kampus SDIT.
Sayang….Zulfan dan salah satu guru kami tertinggal. Akhirnya mereka berdua ,ikut dengan bu Ati naik sepeda motor.

Sesampainya di depan rajak, kami diharuskan jalan kaki menuju sekolah, karena sangat tidak mungkin kalau angkutan yang kami tumpangi harus mengantarkan sampai sekolah. Kondisi jalan yang becek dan terjal menyulitkan kendaraan untuk bisa melaju di jalan itu. Kami beramai-ramai jalan kaki menuju sekolah, hanya satu teman kami, Ghina yang ikut dengan Bu Ati sampai sekolah, karena kakinya masih sakit untuk jalan.

Karena memang hari mulai panas, banyak dari teman-teman yang mengeluh kepanasan dan kecapekan. Dengan keringat yang berpeluh-peluh, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju kampus kami. Walaupun terasa sangat melelahkan, tetapi dalam hati, kami merasa senang karena pulang dengan membawa segudang pengalaman yang sangat berkesan.

Sesampainya di sekolah, kami melepas dahaga dan lelah yang amat sangat, dengan menikmati snack yang tadi masih tersisa. Bu Ati berkata, bahwa pengalaman kita berkunjung ke peternakan harus diabadikan melalui sebuah tulisan yang harus kami karang dalam pelajaran Bahasa Indonesia nanti…

ASYIKNYA KE PETERNAKAN SAPI…

(Rabu, 31 Maret 2010. Pukul 08.00 – 09.00)

Pagi itu, kami teman-teman Ibnu Sina (kelas 2) akan berkunjungan ke peternakan sapi milik Yayasan Harapan Umat-Brebes, yang terletak di desa Pebatan. Peternakan itu menjadi tanggung jawab LM3 (Lembaga Mandiri Mengakar pada Masyarakat), lembaga bawah naungan Yayasan Harapan Umat. Kami sepakat untuk berkumpul di salah satu rumah teman kami, Zulfan namanya. Alasannya karena kebetulan letak rumah Zulfan tak jauh dari letak peternakan itu, dan juga karena dari kami tidak tau letak peternakan sapinya.

Satu per satu teman kami sampai di rumah Zulfan. Terakhir datanglah bu Ati dengan membawa kamera. Horreee…..!!! teriak kami ketika melihat bu Ati datang. Ayooo…bu cepetan, kita langsung ke peternakan, kami sudah nda sabar !! Teriak beberapa teman kami. Bergegas bu Ati memarkir sepeda motornya. Selesai memarkir motor, kami bersama dengan 3 guru pendamping (bu Ati, bu Sulis dan pak Iwan) langsung menuju ke peternakan.

Wah…jalannya “jeblok” (becek) seperti jalan menuju kampus SDIT. Kamipun berjalan dengan penuh hati-hati, karena jalan cukup licin. Wah…lihat di sana!!kata salah seorang teman kami. Pandangan kami langsung tertuju kesuatu tempat. Ternyata di depan kami ada kubangan cukup besar, dan yang lebih menariknya lagi, ada 3 ekor kerbau yang sedang berendam. Kamipun behenti sejenak menikmati pemandangan yang jarang kami jumpai itu…Tak segan bu Ati langsung mengambil gambar pemandangan itu.
Setelah cukup menikmati, kamipun melanjutkan perjalanan………….

Sesampainya di sana, kami bertemu dengan Pa Siswadi, penanggung jawab (ketua) LM3. Kamipun meminta izin untuk melihat dan memberi makan sapi-sapi tersebut. Kami sangat senang sekali dapat melihat sapi dari dekat, bahkan beberapa teman kami banyak yang berani menyentuh sapi-sapi itu. Tiba-tiba saja terdengar suara anak-anak putri yang masih enggan untuk masuk lebih dekat.
“Sapinya banyak yah, bu…”
“Takut!! Nanti sapinya menggigit,bu…”
“Bau, bu…”
Komentar kami bermacam-macam, saat berniat untuk masuk lebih dekat lagi…
Tetapi tanpa menunggu perintah, kamipun bergegas mengambil rumput dan jerami untuk diberikan kepada sapi-sapi itu.

Melihat sapi yang begitu banyak makan dengan lahapnya, kamipun seakan lupa dengan kondisi dan bau peternakan yang sangat menyengat…Kami begitu asyik berkerumun dengan sapi-sapi itu. Namun suasana mulai ribut saat ada beberapa anak putri yang menjerit ketakutan saat akan menyentuh sapi. Ada yang sampai bersembunyi di belakang bu Ati dan memegang tangan teman lainnya. Melihat situasi yang tidak terkontrol, Pa Iwan akhirnya mengajak kami untuk berkumpul. Pa Iwan mulai memberikan kami pengarahan atau informasi yang terkait dengan sapi-sapi tersebut. Selesai memberi pengarahan, Pa Iwan langsung bertanya kepada kami…
“Siapa yang tahu, ada berapa jenis sapi?”
“dua pak!”, jawab Helmi
“betul….”, lau jenisnya apa saja??tanya pa Iwan
“Sapi jantan dan sapi betina, pa!” jawab Helmi
Mendengar jawaban Helmi, Pa Iwan, Bu Ati dan Bu Sulis tersenyum simpul…
Pa Iwanpun memberikan jawaban dan penjelasan yang benar dari pertanyaan tadi…
“Pada umumnya, jenis sapi itu ada dua, yaitu sapi pedaging dan sapi perah. Sapi pedaging itu yang dimanfaatkan dagingnya, sedangkan sapi perah yang dimanfaatkan adalah susunya. Jenis sapi di peternakan ini adalah jenis sapi pedaging.” Jelas Pa Iwan
Kemudian pa Iwan bertanya lagi, “ Apa makanan sapi?”
“Rumput,pa!”
“Kulit pisang, pa”
“Jerami, pa”
(kami menjawab saling bersahut-sahutan…)
Bu Ati yang sibuk mengambil gambar, berkata “kalau ingin tahu lebih banyak lagi tentang sapi-sapi ini, kalian bisa tanyakan langsung kepada pa Siswadi, selaku penanggung jawab dari peternakan sapi ini.”

Sembari menunggu Pa Siswadi yang sedang membersihkan kotoran sapi, kami melanjutkan memberi makan sapi-sapi itu. Bu Ati seakan tidak mau melewatkan pemandangan yang sangat menggugah perasaan itu dengan mengambil gambar demi gambar dengan seksama. Melihat kami asyik berkerumun dengan sapi, bu Sulispun terdorong untuk ikut menikmati suasana di peternakan sapi itu. Akhirnya Bu Sulis memberanikan diri mengambil rumput, memberinya makan..dan subkhanallah…bu Sulispun berani menyentuh salah satu sapi yang berada di kandang paling depan.

Akhirnya bu Sulis dan Bu ati mengikuti kami untuk masuk lebih dekat lagi dengan sapi-sapi itu. Anak putrid yang masih takut, berjalan beriringan dan saling berpegang tangan. Beberapa menit kemudian, Pa Siswadi datang menghampiri kami. Kamipun berkumpul, karena saat itu pa Siswadi sudah siap untuk memberikan pengarahan.

Pa Sis menjelaskan “Sapi di peternkan ini sebagian besar jenis PO (Peranakan Ongol). Jumlah sapi di sini 22 ekor, 10 sapi jantan dan 12 ekor sapi betina. Untuk semua sapi betina yang ada di sini, semuanya dalam keadaan hamil…Sapi-sapi ini didatangkan dari daerah Purwodadi…”jelas Pa Sis
Kemudian ada yang menanyakan, “apa bedanya sapi betina dan sapi jantan??
Pa sis, bertanya kepada kami,”Siapa diantara kalian yang bisa membedakan sapi jantan dan sapi betina?”
Sesaat kami terdiam sambil mengamati sapi-sapi yang ada di sekitar kami, kami cukup penasaran dengan jawaban dari pertanyaan tadi. Dengan serius kami mengamati sapi-sapi itu. Melihat kami yang sedang bersibuk berfikir, akhirnya Pa Siswadi memberikan jawabannya kepada kami. Kamipun cukup puas dengan jawaban yang sudah diberikan Pa Siswadi.
Pa Siswadi juga menambahi jawabannya, “kalau sapi betina yang sedang hamil, masa kehamilannya sama dengan manusia, yaitu 9 bulan.”
Adapun kotorannya bisa kita manfaatkan untuk pembuatan bio gas”
Selang beberapa menit, Pa Iwan bertanya kepada kami” kalau sapi anakan itu makannya apa?”
“Pisang, pa!” jawab salah seorang teman kami.
Spontan , kami tertawa geli mendengar jawaban itu…
Zulfan yang dari tadi serius mendengarkan informasi dari Pa Siswadi juga memberanikan diri untuk bertanya.
“Bio gas itu, seperti yang kita beli ya Pa?”
“Tentu saja kegunaannya sama dengan gas yang kita gunakan sehari-hari, hanya saja kalau bio gas itu berasal dari kotoran”

Tak terasa ternyata sudah lebih dari setengah jam kami berada di peternakan. Kami juga sudah mulai capek..Akhirnya Bu ati, mengakhiri kunjungan kami dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Pa Siswadi karena sudah bersedia memberikan waktu dan kesempatannya kepada kami untuk melakukan kunjungan.
Kunjungan ini, merupakan pengalaman yang sangat berkesan yang mungkin akan terus kami ingat selamanya…..

Kamipun berpamitan dan segera menuju ke rumah teman kami, Zulfan. Sesampainya di sana, Bu Ati berkata kalau kami harus cuci tangan dan kaki sebelum kami masuk ke rumah zulfan. Satu persatu dari kami membersihkan tangan dan kaki, tak ketinggalan Pa Iwan dan Bu Ati membantu kami membersihkan sepatu-sepatu yang kotor karena Lumpur.

Setelah membersihkan diri, kami melepas dahaga dan rasa lelah dengan menikmati snack pemberian dari orang tua zulfan dan snack dari LM3. Wah..banyak sekali snack yang sudah kami dapatkan..ehmmm nyaaammiii.
Rasa capek dan lelah kami sudah terobati,…
Beberapa menit kemudian, Pa Iwan yang tadi pamit untuk mencari kendaraan untuk mengantarkan kami pulang, ternyata sudah tiba dengan angkutannya. Pa Iwan segera memanggil kami untuk segera berkemas-kemas dan langsung naik. Kamipun bergegas mengemasi semua barang-barang dan langsung berlarian menuju angkutan itu. Seketika itu kendaraan langsung meluncur ke kampus SDIT.
Sayang….Zulfan dan salah satu guru kami tertinggal. Akhirnya mereka berdua ,ikut dengan bu Ati naik sepeda motor.

Sesampainya di depan rajak, kami diharuskan jalan kaki menuju sekolah, karena sangat tidak mungkin kalau angkutan yang kami tumpangi harus mengantarkan sampai sekolah. Kondisi jalan yang becek dan terjal menyulitkan kendaraan untuk bisa melaju di jalan itu. Kami beramai-ramai jalan kaki menuju sekolah, hanya satu teman kami, Ghina yang ikut dengan Bu Ati sampai sekolah, karena kakinya masih sakit untuk jalan.

Karena memang hari mulai panas, banyak dari teman-teman yang mengeluh kepanasan dan kecapekan. Dengan keringat yang berpeluh-peluh, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju kampus kami. Walaupun terasa sangat melelahkan, tetapi dalam hati, kami merasa senang karena pulang dengan membawa segudang pengalaman yang sangat berkesan.

Sesampainya di sekolah, kami melepas dahaga dan lelah yang amat sangat, dengan menikmati snack yang tadi masih tersisa. Bu Ati berkata, bahwa pengalaman kita berkunjung ke peternakan harus diabadikan melalui sebuah tulisan yang harus kami karang dalam pelajaran Bahasa Indonesia nanti…

Pos ini dipublikasikan di Diary SDIT Harapan Umat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s