Seminar Pendidikan Nasional

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Ahad, 9 Mei 2010 SDIT Harapan Umat bekerja sama dengan Pengurus Daerah Persaudaraan Muslimah Kabupaten Brebes mengadakan Seminar Pendidikan Nasional bertajuk “ Menjadi Orang Tua dan Guru Yang Cerdas dan Super ; Cara Bijak Menyampaikan Pendidikan Seks Pada Anak”.
Hadir dalam seminar tersebut DR. Tahroni, M.Pd. dari Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes dan praktisi anak dari Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimah, Hj. Nurul Hidayati, S.S. M.BA sebagai narasumber.

Acara seminar ini diawali dengan pra pembukaan yang diisi oleh show off force dari siswa-siswi SDIT Harapan Umat diantaranya dengan pentas rebana, tari kreasi, tasmi dan puitisasi Al-Quran untuk menyambut peserta dan tamu undangan kegiatan seminar ini.

Dalam sambutannya Kepala SDIT Harapan Umat, Sri Khomsiyatun, S.S menyampaikan bahwa tujuan diadakannya seminar ini adalah dalam rangka memberikan tsaqofah/wawasan bagi orang tua dan wali murid SDIT Harapan Umat pada khususnya dan masyarakat pada umumnya sebagai bekal bagi orang tua murid dan guru dalam mendidik, membimbing dan mendampingi putra-putrinya dalam belajar, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Perkembangan tekhnologi dan komunikasi saat ini begitu pesat dan arus informasi yang masuk pun semakin tak terbendung. Maraknya tontonan pornografi dan tindak kekerasan pelecehan seksual terhadap anak-anak membuat kita harus semakin berhati-hati terhadap putra-putri kita. Untuk itulah diperlukan wawasan agar orang tua dan guru bisa semakin lebih bijak dalam mengawal perkembangan anak-anak menuju kearah pendewasaan yang matang.

Peserta tampak begitu antusias pada saat DR. Tahroni menyampaikan materi tentang bagaimana menjadi guru yang cerdas dan super, karena sebagian besar peserta seminar adalah guru.

Dalam materinya tentang cara bijak menyampaikan pendidikan seks pada anak ibunda Nurul menyampaikan bahwa selama ini, pendidikan seks untuk anak usia dini dianggap tabu di kalangan masyarakat. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks belum pantas diberikan pada anak kecil. Padahal dengan pendidikan seks yang diberikan sejak dini sangat berpengaruh dalam kehidupan anak ketika dia memasuki masa remaja. Apalagi anak-anak sekarang kritis, dari segi pertanyaan dan tingkah laku. Itu semua karena pada masa ini anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang besar. Pernahkah kita mendengar tentang seorang anak yang bertanya “Adik bayi itu keluar dari mana?” atau “Adik bayi asalnya dari mana?”. Untuk itu perlu kiat-kiat khusus dalam memberikan pemahaman tentang seks kepada mereka. Biasanya tak jarang orangtua mengalihkan pembicaraan, kadang mereka membentak dan melarang anak untuk tak menanyakan hal tersebut. Selain itu jawaban yang diberikan malah terkesan ngawur. Padahal jawaban yang demikian bisa memicu anak untuk mengeksplor sendiri, karena mereka merasa penasaran dan berusaha mencari jawaban sendiri, apabila tidak mendapatkannya dari orangtuanya.
Pendidikan seks untuk anak-anak walaupun diberikan sejak dini juga harus memperhatikan faktor usia dan tingkat pemahaman anak. Beri penjelasan dengan bahasa yang dimengerti oleh anak. Pendidikan dapat diawali dengan mengenalkan identitas anak, mengenalkan perbedaan ciri-ciri tubuh anak perempuan dan laki-laki. Selanjutnya jelaskan pada anak tentang bagian tubuh yang tersembunyi, yang dianggap tabu untuk disebutkan namanya. Menjelaskan pada anak apa adanya bukan berarti jorok. Memang tidak gampang memberikan penjelasan tersebut. Yang penting sesuai. Yang tidak kalah penting adalah menciptakan hubungan yang baik dengan anak, dengan begitu anak akan mudah menerima masukan dari orangtua, dan yang tidak ketinggalan adalah membina hubungan kerjasama dengan pihak sekolah, dengan tujuan pergaulan anak di sekolah dapat terpantau, dan tidak ada salahnya pendidikan seks untuk anak juga diadakan di sekolah. Dengan demikian anak sudah mempunyai bekal untuk kehidupannya kelak ketika menginjak masa remaja dengan menjaga dirinya sebaik mungkin. Selain itu anak menjadi tahu batasan dan sebab akibat dari bahaya pergaulan bebas.

Seminar ini diikuti oleh sekitar 300 orang peserta yang terdiri dari orang tua dan wali murid SDIT Harapan Umat, guru, masyarakat umum dan pemerhati pendidikan anak.
Semoga bermanfaat.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s